Selasa, 06 September 2011

Hanin #2

Sama sekali NOL besar soal susu menyusui. Kesalahanku saat hamil adalah terlalu menyepelekan "pelajaran menyusui". Padahal persiapan dan pengetahuan yang baik sedari hamil akan memudahkan saat kita dihadapkan dengan proses menyusui yang sesungguhnya. Breastcare, pelekatan yang benar, posisi menyusui yang tepat dan teknik2 lainnya yang aku sama sekali gak peduli saat itu. Aaah, menyusui ya begitu2 saja kan? Gampang lah. Tapi, beruntunglah bahwa aku sangat peduli dengan peng-asi-an, teknik bisa dipelajari tapi niat untuk memberikan asi eksklusif itu mungkin hanya bisa ditanamkan pada hati yang ikhlas dan yang bertekad kuat.

Ketika hanin mulai rawat gabung dengan ku, disaat itulah aku langsung menyusuinya. Kata dokter, terus disusui maka air susu ibu akan cepat keluar. Karena pada hari itu, asi ku belum menetes sama sekali. Alhamdulillah, hanin langsung mahir menyusunya. Dia begitu antusias walaupun asi ku saat itu belum keluar. Begitu antusiasnya sampai aku kesakitan luar biasa (karena pelekatan yang salah sehingga 'pd' ku lecet dan luka bahkan berdarah).

Hari pertama, hanin masih menikmati indahnya dunia di luar kandungan. Dia kalem, gak rewel dan tidurnya pulas walau gak makan/minum apa2. Aku pernah membaca bahwa bayi baru lahir bisa bertahan selama 48 jam (bahkan ada yang menyebutkan 72 jam) tanpa makan minum apapun.

Hanin umur beberapa jam

Malam harinya aku minta di breastcare untuk merangsang agar asi ku cepat keluar. Memang saat itu asi keluar tapi baru yang bening2 itu (kolostrum). Dan kolostrum ini adalah antibody dan antiinfeksi yang hanya keluar pada saat pertama kali kita menyusui. Ini adalah sesuatu yang sangat berharga dan luar biasa untuk bayi kita loh.

Hari kedua, asi masih keluar berupa kolostrum aja. Dan Hanin kayaknya mulai menunjukkan tanda2 kelaparan. Dia suka gak sabaran kalau mau 'enen. Dan dokter bilang bahwa dalam 1x24 jam bayi normalnya BAK sebanyak minimal 6 kali. Tapi dari hari pertama, hanin sama sekali gak BAK, yg ada BAB waktu pertama kali dia lahir. Mulai panik, bahkan aku mulai goyah untuk menambahkan sufor. Aku sudah menandatangani surat persetujuan (hebatnya RS ini, selalu meminta surat persetujuan dari pihak pasien setiap kali melakukan tindakan sekecil apapun termasuk dlm pemberian sufor). Tapi, Alhamdulillah setelah mandi pagi, hanin pipis bu... Horeeee, aku sobek2 tu surat persetujuannya. "DiBATALKAN" *benar2 sadistis ya :p*. Ternyata Tuhan masih menunjukkan jalan agar aku tetap memberikan ASIX :)

Hari kedua jam lima sore, hanin makin rewel. Karena asi (kolostrum) ku masih sedikit sementara dia makin lapar. Seingetku dari jam 5 sore s/d jam 5 pagi hanin gak mau lepas dari 'enennya. Jam 12 malam aku sampai nangis lo... Hiks. Sumfeh, itu rasanya hatiku diaduk-aduk diulek-ulek terus dikasih garam bawang cabe terasi trus disambel deh. Pedes. Hehe. Kasian sekali ngeliat anakku kelaparan, sedih banget dia nangis terus sementara dia juga mungkin capek enen tanpa henti tp dapetnya dikit aja. Belum mataku sepet karena kelelahan kurang tidur, 'pd' lecet, sakit, dan perih banget, belum lagi perut dan bekas jahitan yang masih fresh graduated!! aaah benar2 di shock terapy deh.

Aku, ibu, dan suami giliran gantian jagain hanin, walau tetep lah cuma diriku yg bisa nyusuin dia. Hehee, tapi setidaknya aku bisa tidur barang 30 menit saja. (Bahkan sambil nyusuin hanin, suami nyuapin aku makan. Saking gak bisa lepasnya hanin dari enennya, dan aku belum bisa multitasking saking amatirnya gak pernah gendong bayi apalagi nyusuin :D). *Jempol buat teamwork nya :) *

Hari ke 3.
Badan hanin panas. 37,5 ' C. Wajahnya mulai menguning. Berat Badannya turun. Semua itu adalah tanda2 bahwa bayi mulai kekurangan cairan. Huaaaaaa... Lagi2 aku dihadapkan pada persoalan pengambilan keputusan yang sulit. Apakah aku akan tetap bertahan untuk memberikan asi eksklusif? (Karena pemberian selain asi, air putih sekalipun sudah tidak lagi asi eksklusif) atau aku akan goyah utk nambahin sufor karena takut hanin kenapa2? Aku coba menguatkan diriku, aku sharing dengan konselor laktasi ku ( mbak fitri titi ), aku bicarakan dengan dokterku, aku diskusikan dengan suamiku. Semua support utk tetap memberikan asi eksklusif. Berkat doa dan support yang luar biasa itu (terutama dari suami. Tks sayang!), aku peluk terus bayiku, aku susuin dia terus, walau sambil nahan sakit. Aku sampe kelojotan loh nahan sakitnya. Tapi, Alhamdulillah, subhanallah... Asi ku perlahan keluar. Hebat! Skin to skin contact antara ibu dan bayi memang super, terlebih adalah kuasa Tuhan yang lagi2 luar biasa hebatnya.

Mempertahankan asix memang tak semudah yg aku bayangkan. Tapi aku lakukan semua itu untuk masa depan anakku, hanin. Setetes asi adalah emas berlian untuk hidupnya. Semoga Allah selalu melindungi dan memberikan kesehatan untuk hanin. Amin YRA.

Perjuangan pemberian asix gak cukup sampai disini. Jadi zombie tiap malam, siskamling, manajemen laktasi yang bagus saat kita sudah beraktivitas lagi nanti. Hikss.. Andai pemerintah memberikan cuti melahirkan selama 6 bulan.. *ngarepbanget*

Yes. Breastfeeding isn't that easy.... but I'll keep trying n trying... only for u my precious Hanin ♥♥♥. Kuncinya adalah IKHLAS dan SABAR. Siapapun yang menjalani perannya sebagai orangtua pasti setuju bahwa proses menjadi orangtua adalah proses pematangan diri, pendewasaan & pelatihan kesabaran tanpa batas. Rewardnya : rasa cinta yang begitu tak ternilai!

Anak Cantik nan Sehat :-*


Semangat ibu-ibu!!!!!
Enjoy and happy breastfeeding :)

Hanin Anak ASI dong ^^

2 komentar: